Showing posts with label PUISI. Show all posts
Showing posts with label PUISI. Show all posts

Wednesday, May 9, 2012

11 Foto-foto Penipu Mata

 Lihatlah foto-foto berikut, ,
lihatlah dengan sekilas, kemudian lihatlah lagi gambar tersebut dengan hati-hati. ban kemudian lihat perbedaannya. . . . .




Bencong atau cewek tulen? ? ?







Ngangkangnya lebar banget yak? ?  jadi. . . . . He-eH







Kira-kira nie orang lagi ngapain? ? 




Ada yang telanjang tu di belakang, , 





Foto yang aneh sekali ya????


Cewek berkaki tiga? ? ? ? ? ? ? ? ? ?



Panjangbanget tanggan pemainnya ya. . 

Orang aneh

Ngupil terussssssssssss









tomat nakal

»»  READMORE...

Wednesday, March 28, 2012

LOVE


Cinta!!!!!
Kata yang terlalu sering q dengar,, kata yang temanq bilang bisa bawakan bahagia.
Tp bagiq, cinta toe beban.
Karena toe kan bebani qta tuk selalu pertahankannya,
Ktika qta bisa pertahankan itu,,
Cinta kan bawakan kmu sejuta rasa..
Cinta kan berikan dirimu sejuta warna..
Tp….
Bila qta tak bisa pertahankan itu,,,
Cinta kan bawakan bencana bagi qta,,
Bencana yang ga pernah qta bayangkan,,,
That’s a freaking DISASTER.
Tpi manusia tanpa cinta bagia sayur tanpa garam..
Begitu kata semua orang bijak,,
Ato cman orang yang penuh dengan omong kosong.
Yang cba tuk paksakan apa yang ia pikirkan…
Jadi untuk apakah cinta itu sebetulnya????
Bagai buah simalakama,
Tak dimakan ibu mati,,
Tak dimakan hidup yang kan tiada….
Bagiq sekarang..
Cinta itu bagai pisau..
Hal yang kadang Bantu qta tuk lakukan sesuatu di dunia ini
Tpi jga bisa hancurkan hidup qta.
Jadi cobalah tuk jadikan cinta itu sebagai beban yang kan Bantu qta tuk temukan semua hal yang qta iginkan di dunia ini.
Semua hal indahhhhhhhhhh……
Love is nice…
But love also a fuck
»»  READMORE...

Sunday, March 18, 2012

BUKAN DENGAN SETANGKAI BUNGA


Cakrawala tak tampak di ufuk barat, awan bersama matahari pun ikut tak menampakkan keindahannya sore ini. Hanya angin kencang yang menghempas raga ini. Kuncup-kuncup harapan tumbuh bermekaran masih menjadi angan. Waktu begitu cepat berlalu, hidup terasa datar tuk dijalani.
Duduk di sebuah karang besar di sebuah pantai, ditemani kepiting dan keong yang asik bermain ombak. Tangan kananku memegang ranting kecil untuk mempermainkan si kepiting yang sukses membuat aku iri, sedangkan tangan kiriku menggenggam kekosongan. Begitu juga dengan angin yang begitu kencang menghempas semua kenangan-kenangan yang telah terukir dan tertulis yang tak semudah ombak menghapus ukiran dan tulisan di atas pasir untuk melupakan dan mengenyahkannya. Masih termenung dengan keadaanku yang sederhana yang membuat keadaan seperti ini. Kata-kata kejam yang masih teringat yang terucap dari seseorang yang aku sayang, membuat duniaku berbalik dan terasa berhenti berputar.
****
Pagi itu, Ulan –orang yang sangat berarti dihidupku- denganku di sebuah bukit berdebat tentang keadaanku. Aku yang tak bisa memberi apa yang dia suka ataupun yang dia mau membuat klimaks dalam hubungan kita.
“aku cewek normal, aku minta juga yang wajar, aku ga pernah minta yang berlebihan, permintaanku itu-itu aja, anterin aku ke kampus, anterin kemanapun aku pergi, itu juga aku belum minta aku mau makan di restaurant bintang lima, belum lagi kalo aku minta kamu ngambilin bunga di puncak gunung itu. Aku tau kamu bakalan ga bisa nurutin, ada aja alasan kamu, ga ad motor, bensin habis lah, nabunglah, itulah, inilah, ahhhh…. Banyak alasanmu…” bentaknya saat aku berusaha untuk menjelaskan.
“ga usah kamu  ngomong apa-apa lagi. Emang kamu baik, kamu bisa ngerti aku, kamu bisa bantu aku di saat aku susah, kamu ada di saat aku susah, tapi pernah kamu liat pasangan-pasangan lain? Mereka bisa jalan-jalan sesuka hati, mereka bisa dapatkan apa yang mereka mau tanpa harus meminta dulu. Sedangkan kita apa? Paling untung kamu ajak aku ke bukit ini lagi dan lagi.” Lanjutnya sambil membalikkan badan seakan tak mau malihat tatapan mataku yang mengartikan bahwa dialah segalanya.
Aku memilih untuk diam, aku menunduk mengisyaratkan aku memohon untuk tidak seperti ini. Aku menggenggam erat tangannya yang berusaha untuk dia lepas.
“lebih baik kita break. Kamu renungin masalah ini. Aku sadar aku memang egois, tapi ini yang aku mau, aku bosan dengan keadaan yang seperti ini terus. Sebelum kamu menemukan jawaban atas masalah ini jangan hubungi aku. Kamu boleh hubungin aku setelah kamu dapat jawabannya, jangan hubungin aku kalo hanya untuk memohon dan merengek.” Kata-kata yang mengakhiri pertemuan itu, dia hempaskan tanganku dan mataku melihat langkah kakinya yang semakin menjauh meninggalkan aku dan renunganku saat itu.
****
Deburan ombak menyadarkanku dari lamunanku, aku rasa aku sudah menemukan jawabannya setelah satu minggu lebih memikirkannya. Dia yang sudah menemaniku, sudah menjadi bagian hidupku, akan aku ikhlaskan semuanya. Apapun yang akan terjadi.
Aku bangkit dari karang itu dan bergegas pergi meninggalkan tempat ini. Tanpa aku arahkan, kaki-kakiku tau harus kemana. Tak beberapa lama aku temukan yang sudah menjadi bagian hidupku.
“aku sudah menemukan jawabannya,” kataku tanpa basa basi lagi.
“Apa?”
“inilah aku Lan, dan kamu sudah tau dari dulu. Aku emang ga bisa nurutin apa yang kamu mau, aku ga bisa apa-apa seperti pasangan lain. Asal kamu tau, kamu sudah jadi bagian hidupku, sudah menjadi nafas dari raga ini. Karena satu hal yang membuat aku seperti itu, aku ingin kamu menjadi masa depanku.” Berharap dia bisa mengerti penjelasanku.
“maksudmu?”
“aku ga bisa ngajak kamu makan ke restaurant bintang lima, karena nanti saat kita tua, aku yang akan membuatkanmu layaknya sebuah restaurant bintang lima walaupun di sebuah meja kecil, yang hanya ada menu dari masakanku yang aku masak penuh dengan kasih di rumah kita nanti. Karena di saat kamu tidak bisa melihat tanpa kaca matamu, aku yang akan menuntunmu kemanapun yang kamu mau. Karena di saat kamu tidak sanggup untuk berjalan sendiri, aku yang akan membantumu untuk berjalan menuju apa yang kamu mau.” Aku terdiam sejenak dan dia pun terdiam. “aku tidak bisa membelikanmu apa yang kamu mau sekarang karena uang yang harusnya aku gunakan untuk membelikan apa yang kamu mau aku tabung untuk pernikahan kita, untuk merawat anak kita kelak, untuk masa tua kita nanti. Dan aku pun tak kan bisa mengambilkanmu sekuntum bunga di puncak gunung itu, karena kelak akan aku buatkanmu taman dengan sejuta bunga di taman rumah kita nanti” kataku mengakhiri apa yang ingin aku katakan.
Aku melihat dia meneteskan air mata, dan tak berani untuk menatapku. Ingin rasanya aku memeluk untuk menenangkan hatinya yang dilema dan menghapus air mata yang membasahi pipinya.
“sekarang kamu tau kenapa aku seperti ini sekarang, karena semua untuk masa depan kita, untuk semua mimpi yang ingin aku wujudkan kelak hanya bersamamu. Bukan aku yang harus memutuskan, sekarang kamu bisa memutuskannya. Aku sudah ikhlas, dan aku akan tegar walau apapun yang akan terjadi.”
Keadaan hening setelah aku lega telah mengucapkan segalanya. Walaupun ada sedikit beban dipundakku, apakah ini akan berakhir atau sebaliknya. Akupun tertunduk, menggenggam kekosongan dengan kedua tanganku.
“Indra, maafkan aku. Tak seharusnya aku meminta itu semua kalo seandainya aku tau kalo itu untuk masa depan yang telah kamu persiapkan. Aku tersadar dengan kata-katamu. Aku tak akan melepaskanmu yang telah begitu ikhlas menyayangiku. Ndra, maafin aku…” kata Ulan sembari memegang erat kedua tanganku yang mengepal.
“Tak ada yang perlu dimaafkan Lan, ini wajar terjadi, tapi aku ingin kamu mengerti. Bukan dengan setangkai bunga aku mengungapkan rasaku padamu, tapi dengan janjiku untuk bersamamu selamanya.” Genggamannya aku lepas, dan aku memeluknya dengan erat. Malam yang indah dan sempurna aku rasakan hari ini.
**END**
»»  READMORE...

Wednesday, March 14, 2012

SenJa


Senja
Menghindari senja, aku pun harus bertemu dengan senja itu. Menunggu kesetiaan dan kejujuran di bawah pohon mahoni yang berada di halaman sebuah bangunan TK yang sudah tua. Sebuah ayunan yang satu-satunya permainan anak yang tersisa dibuai angin kencang. Lalu, rintik hujan singgah di ayunan tersebut. Hujan semakin lebat, menyuruhku menepi ke bawah pohon mahoni. Bukan tentang hujan, sebenarnya. Tapi saat ini hujan menemaniku yang gelisah menunggu Darmawan. Hujan menjadi jurus ampuh untuk manakar kesetiaan dan kejujuran itu. Berdiri di bawah mahoni, aku bisa melihat kedatangannya dari ujung jalan. Walaupun rintik-rintik hujan dari sela-sela mahoni singgah di tubuhku.
Dari ujung jalan, Darmawan berlari melintasi hujan. Langkah cepatnya, adalah pertanyaan yang menyediakan jawaban buram untukku. Apakah itu langkah kesetiaan dan pengorbanan atau itu adalah langkah kebimbangan. Terasa darahku naik ke ubun-ubun, dadaku berdebar sangat dahsyat ketika Darmawan berada di hadapanku dengan nafas tersengal-sengal. Sebentar ia berdiri, menyaksikan bagaimana aku. Ia menggigil kedinginan bersamaan dengan air mataku yang jatuh.
“Padahal aku mengenal dirimu sebagai wanita yang  kikir air mata.” Darmawan menatap tajam ke arahku
“Tapi kali ini berbeda, Mawan,” aku menyambung kata-katanya
Darmawan menarik tanganku, membawaku berlari menuju bangunan TK. Kami duduk menepi. Bersandar di bangunan Taman Kanak-Kanak yang sudah tua itu.
“Mawan!” Sapaan akrabnya yang acap kali aku panggil. “Jangan pernah berpikir aku berkorban,” kataku dengan suara yang terisak. “Pastinya dirimu mengenal bagaimana aku. Pernah aku berkorban? Untuk satu hal yang kecilpun aku tidak mau, Mawan!” Sinar mata Darmawan tajam, walau ketika itu ia basah kuyup. Saat ini, sepi sedang berada di antara kami karena Mawan tak memberi sedikit pun tanggapan. Aku duduk sejajar dengan Mawan. Daun mahoni yang disinggahi butir-butir hujan yang semakin lebat menjadi tontonan kami berdua. Tak ada instrument selain lebatnya hujan. Desah nafas Darmawan yang selalu aku dengar apabila berada di sampingnya saat ini tak terdengar.
“Aku tak akan berkorban, Mawan!” Air mataku kembali jatuh. “Sekalipun dia sahabatku.” Aku menyambung kata-kataku sambil mengusir sepi. “Tapi, berpikirlah!” Ada pertempuran besar di hatiku untuk mengeluarkan kata-kata selanjutnya. “Aku berharap dirimu menerima cintanya, jika ia lebih baik dariku. Tentang bagaimana aku, jangan hiraukan!” Aku bukan melepasmu Mawan, tapi mengukur kejujuran dan kesetiaanmu, teriakku dalam hati. Itulah kata terakhirku sebelum menyonsong hujan yang tak jua berkurang lebatnya. Tak ada lagi senja. Antara hujan dan gelap aku tinggalkan Mawan di bangunan TK tua itu. Sayup-sayup terdengar Mawan memanggilku, “Aya…!”

Pagi
Mereka bertemu di antara kabut. Bukan cerita tentang kabut, tapi kabut hadir dengan pesonanya yang memburamkan pandangan di pagi ini. Darmawan duduk di sudut bangunanTK. Ayunan yang kemarin ia lihat bersama Aya masih tertutup kabut. Sesekali Darmawan melihat ke ujuang jalan, menunggu seseorang yang akan melintasi kabut.
Kabut, tak menipiskan keinginan Reka berjalan menelusuri jalan setapak dan berhenti di sebuah bangunan TK yang sudah tua. Reka berharap Darmawan menunggunya di sana.
“Reka! Aku pikir dirimu tak akan datang.” Kata Darmawan menyambut kedatangan Reka. Reka membalasnya dengan senyum kegembiraan karena Darmawan telah menunggunya.
“Terimakasih telah menungguku!”  Disapu dinginnya kabut pagi, mereka duduk di sudut TK. “Setiap berjumpa dengan dirimu, Mawan, hari selalu terasa pagi. Dan pagi ini, sangat tak kuinginkan berlalu begitu saja. Aku harap, ini adalah pagi yang membawa berita baik” Ada senyum di bibir Reka, memperindah wajahnya yang lesung pipi.
“Boleh aku mengajukan satu pertanyaan, Rek?”
“Apa?”
“Tentang sahabatmu.” Darmawan menatap lekat ke arah Reka. “Apa  dirimu tak pernah tahu tentang. . .”
“Tentang kalian. Bukankah begitu, Mawan?” sekilas mereka saling bertatapan. Reka lalu melarikan pandangannya ke pohon mahoni yang diburamkan oleh kabut. “Pastinya aku tahu. Tapi cinta ini memaksaku untuk berkorban, Mawan!. Tak pernah aku inginkan kehadirannya, namun rasa ini datang tanpa aku sadari.”
“Tapi, Aya sahabatmu!”
“Sekalipun dia sahabatku!”
“Apa yang dirimu inginkan dariku, Rek? Masih banyak pria yang lebih baik dariku.”
“Itu benar. Tapi, bagiku dirimu lebih baik untukku dibanding mereka!”
“Jika Aya melepasku untukmu, apa yang dirimu lakukan agar ia juga bahagia seperti kebahagiaan yang dirimu rasakan?”
“Sekali ini aku mohon pengorbanan dari seorang Aya!”
Mereka duduk sejajar menghadap jalan setapak. Sesekali kendaraan mondar-mandir di jalan itu. “Mawan, apakah cintaku hanya akan sia-sia saja? Berharap pada seseorang yang tak mungkin akan membalasnya.”
Mawan menatap lekat mata Reka. Mereka bertemu pandang pada situasi klimaks dari cerita segitiga ini. Jawaban yang diharapkan Reka tak kunjung keluar dari mulut Darmawan. Matahari semakin merangkak ke tengah. Kabut semakin menipis. Mahoni yang tadinya tertutup kabut kini terlihat sangat jelas dengan daunnya yang hijau.

Matahari tepat di atas kepala
“Kekuranganmu membuat aku merasa nyaman. Kehadiranmu menjadi langkah semangat bagiku. Melepasmu adalah kehancuranku.” Kataku di tengah terik matahari. Aku dan Mawan bersandar di bawah mahoni. “Satu hal lagi, Mawan!”
“Apa?”
“Tak semudah itu aku memberitahunya!”
Mawan menatapku. Dapat aku baca pikirannya, seolah ingin tahu apa yang aku maksud.
“Karena dirimu belum memilih, Mawan!” Di balik dinding TK itu, aku tahu ada sepasang telinga yang me-nangkap suaraku. Mendengar pembicaraan kami.  “Aku atau Reka?”  aku lanjutkan kata-kataku, berharap sepasang telinga di balik diding itu juga mendengarnya.
“Apa dirimu masih menginginkan kehadiranku di sisimu, Aya? Bukan aku yang memilihnya. Tapi dirimu sendiri yang akan memberi jawaban dari semua pertanyaan dan pilihan itu!”
“Terjawab sudah kebimbanganku, Mawan!” Reka, seseorang yang berada di balik dinding itu, aku tahu pengorbananmu yang sia-sia untuk Mawan. Tapi, dia memilih aku, Ma’af! Walapun dirimu sahabatku, kata hatiku saat itu. “Kesetiaanmu tak sanggup aku lepaskan. Itulah yang ingin aku katakan.” Ucap Aya.***

»»  READMORE...
Web Analytics