Senja
Menghindari senja, aku pun harus bertemu dengan senja itu. Menunggu kesetiaan
dan kejujuran di bawah pohon mahoni yang berada di halaman sebuah bangunan TK
yang sudah tua. Sebuah ayunan yang satu-satunya permainan anak yang tersisa
dibuai angin kencang. Lalu, rintik hujan singgah di ayunan tersebut. Hujan
semakin lebat, menyuruhku menepi ke bawah pohon mahoni. Bukan tentang hujan,
sebenarnya. Tapi saat ini hujan menemaniku yang gelisah menunggu Darmawan.
Hujan menjadi jurus ampuh untuk manakar kesetiaan dan kejujuran itu. Berdiri di
bawah mahoni, aku bisa melihat kedatangannya dari ujung jalan. Walaupun
rintik-rintik hujan dari sela-sela mahoni singgah di tubuhku.
Dari ujung jalan, Darmawan berlari melintasi hujan. Langkah cepatnya, adalah
pertanyaan yang menyediakan jawaban buram untukku. Apakah itu langkah kesetiaan
dan pengorbanan atau itu adalah langkah kebimbangan. Terasa darahku naik ke
ubun-ubun, dadaku berdebar sangat dahsyat ketika Darmawan berada di hadapanku
dengan nafas tersengal-sengal. Sebentar ia berdiri, menyaksikan bagaimana
aku. Ia menggigil kedinginan bersamaan dengan air mataku yang jatuh.
“Padahal aku mengenal dirimu sebagai wanita yang
kikir air mata.” Darmawan menatap tajam ke
arahku
“Tapi kali ini berbeda, Mawan,” aku menyambung kata-katanya
Darmawan menarik tanganku, membawaku berlari menuju bangunan TK. Kami duduk
menepi. Bersandar di bangunan Taman Kanak-Kanak yang sudah tua itu.
“Mawan!” Sapaan akrabnya yang acap kali aku panggil. “Jangan pernah berpikir
aku berkorban,” kataku dengan suara yang terisak. “Pastinya dirimu mengenal
bagaimana aku. Pernah aku berkorban? Untuk satu hal yang kecilpun aku tidak
mau, Mawan!” Sinar mata Darmawan tajam, walau ketika itu ia basah kuyup. Saat
ini, sepi sedang berada di antara kami karena Mawan tak memberi sedikit pun
tanggapan. Aku duduk sejajar dengan Mawan. Daun mahoni yang disinggahi
butir-butir hujan yang semakin lebat menjadi tontonan kami berdua. Tak ada
instrument selain lebatnya hujan. Desah nafas Darmawan yang selalu aku dengar
apabila berada di sampingnya saat ini tak terdengar.
“Aku tak akan berkorban, Mawan!” Air mataku kembali jatuh. “Sekalipun dia
sahabatku.” Aku menyambung kata-kataku sambil mengusir sepi. “Tapi,
berpikirlah!” Ada pertempuran besar di hatiku untuk mengeluarkan kata-kata
selanjutnya. “Aku berharap dirimu menerima cintanya, jika ia lebih baik dariku.
Tentang bagaimana aku, jangan hiraukan!” Aku bukan melepasmu Mawan, tapi
mengukur kejujuran dan kesetiaanmu, teriakku dalam hati. Itulah kata terakhirku
sebelum menyonsong hujan yang tak jua berkurang lebatnya. Tak ada lagi senja.
Antara hujan dan gelap aku tinggalkan Mawan di bangunan TK tua itu. Sayup-sayup
terdengar Mawan memanggilku, “Aya…!”
Pagi
Mereka bertemu di antara kabut. Bukan cerita tentang kabut, tapi kabut hadir
dengan pesonanya yang memburamkan pandangan di pagi ini. Darmawan duduk di
sudut bangunanTK. Ayunan yang kemarin ia lihat bersama Aya masih tertutup
kabut. Sesekali Darmawan melihat ke ujuang jalan, menunggu seseorang yang akan
melintasi kabut.
Kabut, tak menipiskan keinginan Reka berjalan menelusuri jalan setapak dan
berhenti di sebuah bangunan TK yang sudah tua. Reka berharap Darmawan
menunggunya di sana.
“Reka! Aku pikir dirimu tak akan datang.” Kata Darmawan menyambut kedatangan
Reka. Reka membalasnya dengan senyum kegembiraan karena Darmawan telah
menunggunya.
“Terimakasih telah menungguku!” Disapu dinginnya kabut pagi, mereka
duduk di sudut TK. “Setiap berjumpa dengan dirimu, Mawan, hari selalu terasa
pagi. Dan pagi ini, sangat tak kuinginkan berlalu begitu saja. Aku harap, ini
adalah pagi yang membawa berita baik” Ada senyum di bibir Reka, memperindah
wajahnya yang lesung pipi.
“Boleh aku mengajukan satu pertanyaan, Rek?”
“Apa?”
“Tentang sahabatmu.” Darmawan menatap lekat ke arah Reka. “Apa dirimu
tak pernah tahu tentang. . .”
“Tentang kalian. Bukankah begitu, Mawan?” sekilas mereka saling bertatapan.
Reka lalu melarikan pandangannya ke pohon mahoni yang diburamkan oleh kabut.
“Pastinya aku tahu. Tapi cinta ini memaksaku untuk berkorban, Mawan!. Tak
pernah aku inginkan kehadirannya, namun rasa ini datang tanpa aku sadari.”
“Tapi, Aya sahabatmu!”
“Sekalipun dia sahabatku!”
“Apa yang dirimu inginkan dariku, Rek? Masih banyak pria yang lebih baik
dariku.”
“Itu benar. Tapi, bagiku dirimu lebih baik untukku dibanding mereka!”
“Jika Aya melepasku untukmu, apa yang dirimu lakukan agar ia juga bahagia
seperti kebahagiaan yang dirimu rasakan?”
“Sekali ini aku mohon pengorbanan dari seorang Aya!”
Mereka duduk sejajar menghadap jalan setapak. Sesekali kendaraan mondar-mandir
di jalan itu. “Mawan, apakah cintaku hanya akan sia-sia saja? Berharap pada
seseorang yang tak mungkin akan membalasnya.”
Mawan menatap lekat mata Reka. Mereka bertemu pandang pada situasi klimaks dari
cerita segitiga ini. Jawaban yang diharapkan Reka tak kunjung keluar dari mulut
Darmawan. Matahari semakin merangkak ke tengah. Kabut semakin menipis. Mahoni
yang tadinya tertutup kabut kini terlihat sangat jelas dengan daunnya yang
hijau.
Matahari tepat di atas kepala
“Kekuranganmu membuat aku merasa nyaman. Kehadiranmu menjadi langkah semangat
bagiku. Melepasmu adalah kehancuranku.” Kataku di tengah terik matahari. Aku
dan Mawan bersandar di bawah mahoni. “Satu hal lagi, Mawan!”
“Apa?”
“Tak semudah itu aku memberitahunya!”
Mawan menatapku. Dapat aku baca pikirannya, seolah ingin tahu apa yang aku
maksud.
“Karena dirimu belum memilih, Mawan!” Di balik dinding TK itu, aku tahu ada
sepasang telinga yang me-nangkap suaraku. Mendengar pembicaraan kami.
“Aku atau Reka?” aku lanjutkan kata-kataku, berharap sepasang telinga di
balik diding itu juga mendengarnya.
“Apa dirimu masih menginginkan kehadiranku di sisimu, Aya? Bukan aku yang
memilihnya. Tapi dirimu sendiri yang akan memberi jawaban dari semua pertanyaan
dan pilihan itu!”
“Terjawab sudah kebimbanganku, Mawan!” Reka, seseorang yang berada di balik
dinding itu, aku tahu pengorbananmu yang sia-sia untuk Mawan. Tapi, dia memilih
aku, Ma’af! Walapun dirimu sahabatku, kata hatiku saat itu. “Kesetiaanmu tak
sanggup aku lepaskan. Itulah yang ingin aku katakan.” Ucap Aya.***